skip to main | skip to sidebar

Silva Dream

Konsep Bumi Kita

  • Home
  • Gallery
  • Contact me
  • About Me

Senin, 14 Januari 2013

Terungkap, Misteri Punahnya Badak Berbulu Wol

Diposting oleh Maysatria Label: News
 Badak berbulu wol atau <i>Coelodonta antiquitatis</i>
VIVAnews - Ditemukannya tubuh utuh badak berbulu wol berjenis kelamin betina di Siberia mengungkap pengetahuan baru tentang bagaimana hewan raksasa ini punah. Dulu badak berbulu ini merupakan salah satu mamalia terbesar yang banyak tinggal di Eurasia pada Zaman Pleistosen, namun hanya sedikit fosil dari hewan ini yang ditemukan.

Badak berbulu wol (Coelodonta antiquitatis) biasanya ditemukan di sekitar Eurasia, Inggris bagian barat, dan di Chukotka dan Kamchatka di Rusia bagian timur. Kerangka dari hewan ini hanya ditemukan ada empat bangkai utuh, namun melingkupi jaringan otot pada tulang.

Berdasarkan sisa-sisa kerangka itu, para ilmuwan menemukan bahwa badak berbulu wol memiliki tubuh yang panjang dan kaki yang pendek. Tanduk depannya diketahui ditutupi oleh kulitnya yang tebal dan berbulu.

Dilansir dari BBC, para ilmuwan mengungkap bahwa badak ini sangat lambat dalam reproduksi dan memiliki ekor dan telinga yang pendek. Kepunahan hewan ini kemungkinan karena ketidakmampuannya bertahan dari salju yang tebal, dan lebih utama karena adanya perubahan iklim. Hasil dari penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal "Biology Bulletin".

Hasil penelitian itu mengikuti penelitian yang telah dilakukan oleh Gennady Boeskorov dari Russian Academy of Sciences di Yakutsk.

Dia menganalisis bahwa badak berbulu ini pertama kali ditemukan pertama kali pada tahun 2007, di sungai Kolyma. Binatang ini ditemukan terkubur pada kedalaman lima sampai sembilan meter pada sebuah area tambang emas.

Batak betina yang hidup 39.000 tahun yang lalu dengan keadaan kepala, tanduk, dan empat kakinya masih lengkap saat ditemukan. Namun sebagian besar organ internal telah hilang. Menariknya, isi perutnya masih utuh.

Gennady Boeskorov mempelajari badak ini dengan membandingkan dengan badak-badak di zaman modern. Penelitiannya ini menegaskan bahwa badak berbulu memiliki bobot 1,5 ton, gerakannya lambat, memiliki kulit tebal. Ukurannya hampir sama dengan badak Jawa.

Badak ini memiliki dua puting. Ini menunjukkan bahwa badak berbulu wol melahirkan satu sampai dua anak. Selain itu, kulit tebal dan bulunya yang panjang, awalnya terbentuk untuk menyesuaikan dengan iklim yang dingin

Adaptasi badak ini diduga tak berhasil. Sebab, badak ini kemungkinan punah karena salju tebal di musim dingin.

Tubuh yang berat dan kaki yang pendek telah memberikan tekanan yang besar. Ini membuatnya kesulitan saat berjalan di salju yang tebal. Saat salju sudah mencapai setinggi perut, maka badak ini menjadi tidak berdaya.

"Faktor musim dingin dan salju yang tebal memainkan peran penting dalam kepunahan badak berbulu wol ini," kata Gennady Boeskorov.

Perangkap alami seperti salju yang tebal sangat membahayakan badak berbobot berat dan berkaki pendek ini.

"Sepertinya badak ini punah karena terperosok ke dalam saju yang tebal. Itu adalah jebakan maut baginya," ujar Gennady Boeskorov.

Source : link

Spesies Baru Primata Beracun Ditemukan di Kalimantan

Diposting oleh Maysatria Label: Kesehatan

 
Spesies baru kukang, <i>Nycticebus kayan</i>.VIVAnews - Spesies baru dari seekor kukang yang merupakan primata nokturnal kecil, telah ditemukan oleh para ilmuwan di Kalimantan. Hewan kecil yang lucu dan bergerak lambat ini memang banyak ditemukan di Indonesia, terutama di daerah Sumatera dan Kalimantan.

Spesies baru kukang ini bernama Nycticebus kayan, dan telah lama tidak diketahui keberadaannya karena gaya hidupnya yang nokturnal atau aktif di malam hari. Uniknya, kukang spesies terbaru ini memiliki gigitan yang beracun.

Penelitian terhadap hewan yang aktif pada malam hari ini sangat sulit dilakukan, karena tampilannya sangat mirip antara spesies yang satu dengan lainnya. Ini yang membuat para ilmuwan sulit mendeteksi perbedaan antar spesies.

Penemuan baru ini dilakukan oleh tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Profesor Anna Nekaris dari Oxford Brookes University dan Munds Rachel dari University of Missouri di Columbia, Amerika Serikat, yang melakukan survei kukang di hutan Kalimantan dan Filipina.

Penelitian ini telah mengungkapkan sebenarnya ada empat jenis kukang dari Kalimantan dan Filipina yang semua berbeda. Perbedaannya ini terlihat dari tanda di kepalanya.

Awalnya spesies yang ditemukan termasuk dalam satu spesies, yaitu Nycticebus menagensis. Sementara dua spesies lainnya Nycticebus bancanus dan Nycticebus borneanus, termasuk ke dalam sub spesies Nycticebus menagensis.

Namun, akhirnya ditemukan bahwa spesies baru ini adalaha Nycticebus kayan.

"Khusus di Kalimantan ada tiga spesies baru. Namun, ini menandakan bahwa spesies baru itu akan terancam kepunahannya karena dampak perubahan iklim dengan turunnya suhu beberapa derajat berdasarkan laporan dari IUCN," kata Anna Nekaris, dilansir dari BBC.

Hewan primata ini memiliki gigitan beracun. Selain itu ia menghasilkan racun dari kelenjar yang berada di sikunya.

Dalam memproduksi racun, hewan ini biasanya menjilati sikunya yang memiliki racun dan mencampurnya dengan air liur kemudian digunakan untuk menggigit pemangsa yang mengancam nyawanya, dan hewan yang mengganggu anak-anaknya.

Meskipun racunnya berpotensi sangat fatal bagi manusia, namun hewan yang memiliki penampilan lucu ini sering menjadi target pemburu. Kukang ini laku dijual di perdagangan hewan untuk dijadikan hewan peliharaan setelah mencabut giginya.

Untuk mencegah kepunahan, banyak kelompok penyelamat hewan sering tidak menggunakan pedoman yang tepat saat melepaskan hewan ini ke alam liar.

"Sebenarnya banyak tempat pelepasan hewan ini di alam liar di kawasan Asia. Namun karena luka yang dialami kukang, seperti gigi yang dicabut dapat menyulitkannya mengunyah makanan, membuat hewan ini sangat sulit untuk dilepas di alam liar," ujar Anna Nekaris.

Source : link

20.000 Spesies Didata di Peta Keanekaragaman Hayati

Diposting oleh Maysatria Label: News
Beruang Kutub di Kebun Binatang Jerman
VIVAnews - Sebuah peta keanekaragaman hayati yang menunjukkan variasi bentuk kehidupan bumi telah diperbaharui setelah satu abad. Sebelumnya, peta keanekaragaman hayati disusun pertama kali oleh naturalis Inggis, Alfred Russel Wallace, pada tahun 1876.

Peta yang disusun Wallace itu berfungsi untuk menggambarkan kehidupan yang telah berkembang di semua benua yang ada di dunia.

Peta terbaru yang telah dipublikasikan secara online di jurnal "Science" ini menunjukkan pembagian 11 alam biogeografis yang besar dan bagaimana semua bagian itu saling berhubungan. Kemajuan teknologi modern telah mendata lebih dari 20.000 spesies, sehingga memungkinkan para peneliti memetakan keanekaragam hayati secara lebih detil.

Untuk menyusun peta terbaru ini, tim yang terdiri dari 15 peneliti internasional telah menghabiskan 20 tahun untuk pengumpulan data. Semua informasi geografis dikombinasikan dengan mamalia, burung, dan amfibi, totalnya lebih dari 20.000 spesies.

Menurut Ketua Penelitian dari Pusat Macroecology, Evolusi dan Iklim di University of Copenhagen, Denmark, Dr Ben Holt, penelitian ini adalah update yang telah tertunda lama, dan peta ini adalah yang paling mendasar dari ilmu alam.

"Untuk pertama kalinya peta ini diperbaharui, sejak pembuatan peta pertama oleh Alfred Russel Wallace. Peta terbaru ini mampu memberikan gambaran yang luas dari alam, dan dapat memberikan informasi yang rinci tentang ribuan spesies vertebrata," kata Ben Holt, dilansir dari Daily Mail.

Di peta terbaru terbagi menjadi dua bagian, mengenai kondisi geografis dan habitat hewannya. Dr Carsten Rahbek, Direktur Pusat Macroecology, Evolusi dan Iklim, juga mengatakan bahwa dengan peta ini kita bisa mengindentifikasi area prioritas konservasi dengan melihat jumlah spesies yang ada pada suatu area.

Sementara menurut Dr Jean Philippe Lessard, anggota Tim Peneliti dari McGill University di Kanada, peta ini menyediakan informasi dasar yang penting untuk penelitian ekologi dan evolusi masa depan.

"Peta ini memiliki andil dalam melakukan tindakan konservasi terhadap krisis keanekaragaman hayati yang terus rusak oleh perubahan iklim global. Selain itu, peta ini juga menyediakan deskripsi holistik untuk menjadi landasan baru dalam dunia biologi secara mendasar," kata Jean Philippe Lessard.

Source : link

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Kategori

  • Flora dan Fauna (128)
  • Forestry (312)
  • Mangrove (82)

Archive

  • ▼  2015 (20)
    • ▼  Oktober (3)
      • Info Sebaran Hotspot provinsi Jambi 27 September -...
      • Tak Wajibkan SVLK, Kebijakan Ekspor Ini Bikin Lang...
      • Berikut Korporasi-korporasi di Balik Kebakaran Hut...
    • ►  September (17)
  • ►  2014 (43)
    • ►  Agustus (13)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (8)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2013 (309)
    • ►  Desember (14)
    • ►  November (97)
    • ►  Oktober (28)
    • ►  September (36)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (20)
    • ►  Juni (19)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (20)
    • ►  Februari (19)
    • ►  Januari (25)
  • ►  2012 (97)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (25)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (15)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (19)
    • ►  Januari (16)
  • ►  2011 (323)
    • ►  Desember (52)
    • ►  November (27)
    • ►  Oktober (12)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (16)
    • ►  Maret (24)
    • ►  Februari (122)
    • ►  Januari (44)
  • ►  2010 (105)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (22)
    • ►  Agustus (79)

_______________

_______________

 

© My Private Blog
designed by Website Templates | Bloggerized by Yamato Maysatria |