skip to main | skip to sidebar

Silva Dream

Konsep Bumi Kita

  • Home
  • Gallery
  • Contact me
  • About Me
Tampilkan postingan dengan label Flora dan Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flora dan Fauna. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

World Rhino Day: Berupaya Menyelamatkan Badak dari Kepunahan

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna
Badka yang terekam kamera pengintai. Foto: Taman Nasional Ujung Kulon 
Badak Sumatera yang terekam kamera pengintai di Taman Nasional Gunung Leuser. Foto: YLI
Kehidupan badak kian terancam. Bukan hanya habitat atau hutan yang kian tergerus, perburuan pun masih berlangsung. Pemerintah lewat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menargetkan dalam lima tahun kedepan meningkatkan 20% populasi badak Jawa dan Sumatera, yang kini status terancam punah.
Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat diwawancarai Mongabay, belum lama ini mengatakan, dalam rencana jangka menengah sudah ada, selama lima tahun harus ada kenaikan 20% populasi badak Jawa dan Sumatera, yang di Indonesia. Target itu, diperlakukan sama terhadap harimau, orangutan, dan satwa terancam punah lain.
Dia menjelaskan, khusus badak Jawa, hanya tinggal di Taman Nasional Ujung Kulon. Ini dataran rendah dikelilingi laut, jika terjadi bencana alam bisa mengancam kehidupan badak  itu. Untuk itu, kini diinisiasi pencarian tempat baru yang layak bagi badak Jawa.
Begitu juga badak Sumatera, kata Siti, masih ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka, ada kemungkinan dibuat konsep pemindahan ke lokasi lain yang lebih baik dan terkontrol. “Agar proses perkawinan lebih besar jika disatukan hingga kenaikan populasi 20% bisa terwujud.”
Saat ini, katanya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih mempelajari, dengan menggandeng sejumlah organisasi, dan peneliti badak.
“Ini masih dipelajari. Target kita proses pemindahan bisa menjaga keberlangsungan hidup badak baik di Ujung Kulon juga badak Sumatera.”
Tachrir Fathoni, Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), KLHK mengatakan,  konsep pemindahan badak itu, salah satu cara agar perkembangbiakan lebih cepat. Sebab, jika murni di alam, khawatir frekuensi pertemuan pengembangbiakan tidak bisa terkontrol.
Khusus badak Jawa, mengingat jumlah tidak sampai 100, dan sangat terancam punah, maka akan ada pemindahan ke lokasi lain.
Sedangkan Umamat Rahmad, Kepala Seksi Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, Direktorat Jenderal KSDAE, juga peneliti badak Jawa, mengatakan, badak Jawa, satu dari lima jenis badak di dunia. Dulu habitat sangat luas baik di Jawa maupun Sumatera. Namun, kini tinggal ada di TNUK. Pada 2011, badak Jawa punah di Vietnam.
Populasi saat ini di TNUK , berdasarkan video trap, jumlah diperkirakan tinggal 57 individu. Kondisi habitat cukup bagus, walaupun ada gangguan inflasi areal, hingga pakan tidak tumbuh bagus.
Menurut dia, langkah penyelamatan badak Jawa, dengan menyiapkan sarana yang saat ini dibuat Japan Study  Conservation Area, di TNUK. Juga buat populasi kedua. Dengan kondisi badak Jawa di Ujung Kulon, dan badak Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser yang terancam, diupayakan memperbanyak kantong baru “rumah baru” bagi mereka.
KLHK, katanya, sudah survei sejumlah lokasi, mulai Suaka Margasatwa Cikepuh, Cagar Alam Gunung Sanca, Taman Nasional Alimursala, Hutan Baduy, Akar Sari, Pulau Panaitan, Waikambas, sampai Harapan Koles di Jambi. Konsepnya peningkatan di alam dibantu penangkaran semi alami.
Begitu juga badak Sumatera, selain di TNGL juga ditemukan di Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas. “Badak Sumatera memiliki sebaran lebih luas, namun kondisi kantong-kantong ini terputus, hingga lebih menghawatirkan. Atas dasar itu juga jumlah diduga kurang dari 100 individu.”
Menurut Mamat, badak Jawa dan Sumatera, pernah hidup berdampingan di Sumatera. Bedanya, badak Jawa hidup di dataran rendah, dan badak Sumatera beradaptasi dan ada di dataran tinggi. Karena badak Jawa punah terlebih dahulu di Sumatera, karena hidup di dataran rendah. Ia lebih banyak dirambah manusia, hingga punah duluan.
Terbaru, badak Sumatera ditemukan di Kalimantan. Dahulu pernah dinyatakan punah, namun ditemukan jejak dan wujud di Kutai Barat, berkelamin jantan dan betina. “Agar tidak punah, akan dilakukan rapat nasional penyelamatan badak Sumatera di Kalimantan.”
Secara ekologis, katanya, badak Jawa lebih banyak jantan hingga perlu campur tangan manusia untuk menstabilkan sekrasio. Sekrasio sebenarnya di mamalia minimal 1:2. Artinya,  satu jantan dua betina. Lebih bagus lagi satu jantan empat betina.
Sedangkan Kuswandono, Kepala Bidang Teknis Balai Besar TNGL, mengatakan, di beberapa lokasi TNGL, masih ada hutan lindung, hutan produksi tetap, dan hutan produksi terbatas. Namun, beberapa kawasan langsung berbatasan dengan wilayah masyarakat atau masuk areal penggunaan lain hingga tantangan tersendiri.
“Artinya, jika serius ingin melindungi hutan konservasi sebagai kantong terakhir pelestarian ekosistem, termasuk badak tidak bisa dilakukan sendiri BBTNGL. Harus ada dukungan pemerintah daerah, politisi lokal, dan masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar TNGL.”
Dalam pemantauan badak, mereka memakai peta lokasi dan memasang camera trap di sejumlah titik yang dianggap area badak.  Populasi badak di TNGL,  katanya, juga berkembang biak. Ini termonitor dari camera trap yang merekam kegiatan mereka.

Source : link
0 komentar

Lamprey, Ikan Prasejarah Bergigi Silet yang Muncul Kembali

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna

Lamprey pasifik (Lampetra tridentata), dipercaya salah satu vertebrata tertua di bumi yang tidak berubah sejak jutaan tahun lalu. Foto: Dave Herasimtchuk
Bagaimana jika mahluk pra sejarah kembali ditemukan saat ini? Apakah mahluk ini masih dapat bertahan hidup di lingkungan yang telah berubah dan telah mengalami polusi berat?
Badan Lingkungan Hidup Inggris baru-baru ini melaporkan telah menjumpai kembali seekor ikan prasejarah yang terlihat di sungai Derwent, Yorkshire sejak terakhir ditemukan pada abad ke-19 silam.
Di masa lalu, ikan ini cukup mudah ditemukan di perairan Inggris, namun karena terkena polusi saat Revolusi Industri dan pembangunan pabrik sehingga ikan tersebut seolah-olah ‘menghilang’.
Makhluk aneh bernama lamprey itu mirip seperti ular dan dipercaya telah ada lebih dari 200 juta tahun lalu atau jauh sebelum sebelum era dinosaurus dan vertebrata tertua lainnya. Karena itulah, julukan “fosil hidup” pun melekat padanya.
Ikan ini terlihat tidak berbahaya saat mulutnya menutup, wujudnya mirip belut, namun saat membuka mulut mencari mangsa, terlihat ratusan gigi-gigi terpancang setajam silet.
Ikan lamprey dengan giginya yang setajam silet. Photo courtesy: Great Lakes Fishery Commission
Foto: Mike Ross/UNH Photographic Service

Badan Lingkungan Hidup Inggris mengklaim bahwa keberhasilan menekan polusi yang rendah dalam seratus tahun terakhir dan upaya konservasi yang terus-menerus telah mengembalikan habitat yang baik bagi ikan lamprey untuk perlahan-lahan kembali.
Menurut para peneliti, ikan lamprey juga penting untuk memproses nutrisi di sungai dan mampu menyediakan sumber makanan bagi ikan lainnya dan burung, seperti bangau.
“Selama dua ratus tahun terakhir, sungai-sungai belum mampu menjadi tempat hidup bagi ikan lamprey sebagai akibat dari kualitas air, habitat yang rusak dan berbagai tantangan lain yang dibuat manusia,” demikian Simon Toms, ahli perikanan dari Inggris menyebutkan.
“Kembalinya mereka pada habitat lama sesungguhnya indikasi bahwa tingkat polusi menurun, dan sungai memiliki ekosistem yang lebih sehat.”
Meskipun wujudnya cukup menakutkan, ikan ini sesungguhnya tidak berbahaya bagi manusia, dan kembalinya mereka ke perairan Inggris sesungguhnya kabar baik. Namun demikian, ikan ini tetap sulit ditemui karena keberadaanya masih tetap jarang.
“Ini adalah ikan yang fenomenal, fosil hidup, yang memiliki tempat khusus dalam sejarah dan tradisi Inggris. Oleh karena itu, kami berharap ikan prasejarah ini dapat berkembang lagi di sungai-sungai di Inggris,” lanjut Toms.
Ikan yang masuk dalam ordo Petromyzontiformes, ini terdiri dari tiga spesies yang masih bertahan, satu spesies hidup di air laut yang kadang masuk ke sungai untuk bertelur. Inilah spesies yang belum lama ini ditemukan kembali.
Untuk memacu populasinya, pihak terkait pun sedang mengusahakan agar ikan dengan mulut penghisap itu dapat dipelihara supaya dapat berkembang biak.

Source : link


0 komentar

Si Udang Harimau Dari Indo Pasifik Yang Menawan

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna
Banyak sekali satwa laut yang unik dan eksotis, yang menambah keindahan bawah laut, selain terumbu karang. Salah satunya adalah udang spinny tiger (Phyllognatia ceratophthalmus atau Phyllognathia ceratophthalma). Udang yang termasuk keluarga crustacea ini memiliki beberapa nama lain, seperti  udang harimau berduri, udang bongo, udang horned bumblebee.
Udang spinny tiger ini masih satu familia dengan udang harlequin dan udang bumblebee. Dengan corak yang khas seperti loreng harimau, udang ini berukuran relatif  kecil. Mereka rata-rata hanya tumbuh maksimal 2 cm saja. Bahkan  sering dijumpai berukuran lebih kecil itu. Penyebaran satwa unik ini ada di Indo Pasifik.
Udang spinny tiger. Foto : Wisuda
Udang spinny tiger (Phyllognatia ceratophthalmus atau Phyllognathia ceratophthalma). Udang dari Indo Pasifik ini mempunyai nama lain udang harimau berduri, udang bongo, udang horned bumblebee. Foto : Wisuda
Sampai saat ini, belum ada literatur yang menyebutkan kebiasaan makan udang mungil ini. Peneliti mengasumsikan mereka memakan echinodermata karena mempunyai hubungan dengan Hymenocera.
Karena ukurannya yang kecil, mereka pun pandai menyamar dan biasanya tersembunyi diantara spons, puing-puing, algae atau di karang-rusak. Beberapa juga ditemukan di soft coral. Ukuran tubuhnya yang sangat mungil itu, menyebabkannya cukup sulit ditemukan . hidupnya pun sangat sering berpasang – pasangan.
Udang spinny tiger. Foto : Wisuda
Udang spinny tiger (Phyllognatia ceratophthalmus atau Phyllognathia ceratophthalma) ukurannya sangat kecil rata-rata hanya tumbuh maksimal 2 cm. Hidup diantara terumbu karang , spons dan alga. Foto : Wisuda
Bahkan  kadang-kadang, mereka juga hidup dalam kelompok-kelompok kecil atau keluarga. Dengan warna tubuh yang indah, mereka sering diburu para penyelam dan pehobi fotogroafi underwater sebagai obyek foto atau bahkan dicari sebagai hewan peliharaan.

Source : link
0 komentar

Organisme Apa yang Terbesar di Dunia? …. Ternyata Jamur

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna
jamur madu (Armillaria solidipes) yang tumbuh di kawasan Blue Montains, Oregon, Amerika Serikat. Credit Photo: Elzbieta Sekowska, via Shutterstock. 
Jamur madu (Armillaria solidipes) yang tumbuh di kawasan Blue Montains, Oregon, Amerika Serikat. Credit Photo: Elzbieta Sekowska, via Shutterstock.

Jika ditanya tentang organisme hidup terbesar di dunia saat ini, apa yang ada di benak kita? Bisa jadi ikan Paus. Mahkluk laut raksaasa, paus biru (Balaenoptera musculus), memang memiliki ukuran sangat besar, mempunyai panjang 30 meter dan mempunyai berat hingga 180 ton.
Dengan ukuran sebesar itu, makhluk ini dipercaya lebih besar dari dinosaurus terbesar sekalipun yang pernah hidup di planet Bumi. Tetapi ternyata, Paus Biru bukanlah organisme hidup terbesar di dunia.
Rekor itu ternyata dipegang oleh salah satu makhluk hidup yang mungkin tak pernah kita sangka, yakni jamur.
Jamur yang dimaksud tersebut adalah jamur madu (Armillaria solidipes) yang tumbuh di kawasan Blue Montains, Oregon, Amerika Serikat. Jamur ini menutupi kawasan seluas 965 hektar atau sekitar 1.665 kali luas lapangan sepakbola. Jamur terbesar ini ditemukan pada tahun 1998.
Bukan hanya ukurannya, usia jamur ini juga sangat fantastis. Berdasarkan tingkat pertumbuhannya hingga sekarang, diperkirakan jamur ini berusia 2.400 tahun.
Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa jamur ini telah hidup sejak 8.650 tahun yang lalu. Jadi, bisa jadi jamur ini juga memegang rekor sebagai organisme tertua di dunia.
Jamur madu merupakan nama yang biasa diberikan pada jamur-jamur yang memiliki genus Armillaria. Jamur parasit ini mengkolonisasi dan membunuh pepohonan di sekitarnya. Saking menyebalkannya jamur ini untuk para pecinta pohon, jamur ini memiliki julukan “Gardeners Nightmare” atau “Mimpi Buruk para Pekebun”.
Armillaria ostoyae, salah satu kerabat jamur madu lainnya. Foto: Alan Rockefeller/ Wikipedia common

Jamur ini juga dikenal sebagai pembunuh pepohonan. Sebelum jamur terbesar ini ditemukan, Dinas Kehutanan Amerika Serikat sedang mencari penyebab banyaknya pepohonan yang mati, terutama cemara.
Mereka mengambil foto udara dan sampel dari sekitar 112 pohon yang mati. Mereka menemukan sekitar 108 di antara pohon yang mati ternyata telah terinfeksi jamur madu.
Para peneliti kemudian meneliti sampel jamur yang diperoleh, dan memasangkan miselia masing-masing jamur satu sama lain untuk mengetahui apakah mereka berasal dari koloni yang sama. Secara mengejutkan, mereka menemukan bahwa 61 pohon yang tumbang tersebut diserang oleh koloni klonal-individu jamur yang sama.
Hal tersebut terlihat dari susunan genetik jamur yang sama, sehingga disimpulkan bahwa jamur-jamur tersebut merupakan satu organisme!
Semua jamur dalam genus Armillaria dikenal sebagai jamur madu, yang memiliki tubuh buah kuning dan rasa manis yang mereka hasilkan. Spesies jamur raksasa yang pertama ditemukan di alam adalah Armillaria bulbosa, yang kemudian berganti nama Armillaria Gallica di Michigan. Spesies ini mengokupasi lahan sekitar 15 hektar.
Segera setelah itu, penemuan jamur yang lebih besar di barat daya Washington, kemudian di Colorado pada tahun 1992. Jamur madu Armillaria ostoyae, mencakup sekitar 600 hektar.
Para ahli biologi telah lama berdebat tentang apa yang didefinisikan sebagai organisme individual. Jika sebuah organisme individual didefinisikan sebagai “sel-sel yang secara genetik identik, dapat berkomunikasi, dan mempunyai tujuan yang sama atau setidaknya dapat mengkoordinasikan diri mereka sendiri.”
Dengan definisi tersebut, maka jamur A. solidipes adalah pemegang rekor organisme terbesar di dunia saat ini.

Source : link

0 komentar

Minggu, 31 Agustus 2014

Salu, kanguru Papua Pendatang Baru di Taman Rimbo Jambi

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna, Konservasi
Salu, kanguru Papua (Thylogale brunii)  yang ada di Taman Rimbo Jambi. Foto : Lili Rambe

Salu, kanguru Papua (Thylogale brunii) yang ada di Taman Rimbo Jambi. Foto : Lili Rambe
Kabar gembira datang dari kebun binatang Taman Rimbo, Jambi. Salu, kanguru tanah Papua (Thylogale brunii)  yang telah menjadi penghuni kebun binatang ini selama 3 tahun telah melahirkan anak ketiganya.
“Kami tidak mengetahui secara pasti kapan anak Salu ini lahir namun pada tanggal 23 Juli lalu Siswo, keeper satwa kami melaporkan kantong Salu menggelantung dan bergerak” kata Arif Makhfud, Kepala Seksi Pemeliharaan dan Perawatan Satwa kebun binatang Taman Rimbo.
Mengetahui hal itu, dia dan dokter hewan segera melakukan pemeriksaan pada Salu dan benar saja, kantung Salu sudah dihuni oleh seekor bayi kanguru. Bayi kanguru lahir dalam keadaan belum sempurna dan berukuran kecil sehingga kelahirannya cukup sulit dideteksi.
Anak Salu ini akan berada dalam kantung induknya selama kurang lebih 6 bulan dan akan disapih ketika ia berusia antara 8 hingga 12 bulan.
Sejak menghuni Taman Rimbo pada tahun 2011 lalu Salu telah melahirkan 3 anak namun sayang anak pertamanya mati. Saat ini anak kedua Salu yang berjenis kelamin jantan telah berusia 1 tahun.
Kanguru yang berhabitat asli di Papua, Papua Nugini, Pulau Aru dan Pulau Kai ini memiliki masa kehamilan selama 30 hari dan hanya melahirkan satu anak. Jika dibandingkan dengan kanguru Australia ukuran tubuh kanguru tanah Papua ini sangat kecil, tingginya hanya sekitar 29 hingga 67 cm dan memiliki berat antara 5 hingga 18 kg.
Salu, kanguru Papua (Thylogale brunii)  yang ada di Taman Rimbo Jambi. Foto : Lili Rambe
Salu, kanguru Papua (Thylogale brunii) yang ada di Taman Rimbo Jambi. Foto : Lili Rambe
Dalam habitat yang terlindungi umur kanguru tanah dapat mencapai 10 tahun sementara di alam liar dapat mencapai 6 tahun.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan satwa marsupial alias hewan berkantung ini kedalam kategori rentan (vulnerable) karena selama 15 hingga 20 tahun terakhir populasinya berkurang 30 persen.
Bahkan populasi kanguru tanah di kawasan yang terletak dekat Port Moresby, Papua Nugini diperkirakan telah punah. Namun di Pulai Aru populasi kanguru tanah masih cukup banyak.
Bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan resiko penurunan populasi kanguru tanah akibat habitat asli mereka yang berubah menjadi pemukiman dan diburu oleh manusia.

Source : link
0 komentar

Penyebab Menyusutnya Banteng dan Macan Tutul di Taman Nasional Baluran

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna, Konservasi
Nurdin Razak menunjukkan hamparan savana yang dikelilingi akasia dari atas menara pantau di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Foto : Petrus Riski

Nurdin Razak menunjukkan hamparan savana yang dikelilingi akasia dari atas menara pantau di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Foto : Petrus Riski  
Seharian penuh menyusuri jalanan tidak rata yang membelah Taman Nasional Baluran, nampaknya tidak cukup untuk memenuhi hasrat menjelajahi 25.000 hektar luas keseluruhan taman nasional yang terletak di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Perburuan foto satwa dan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Baluran, menjadi tujuan sekaligus tantangan tersendiri bagi pengunjung yang masuk ke dalamnya. Melewati zona-zona di dalam Taman Nasional Baluran, masih bisa dijumpai sejumlah spesies tumbuhan dan  satwa eksotis endemik pulau Jawa.
Ekosistem Baluran memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan yang diantaranya merupakan tumbuhan asli yang khas, dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering seperti, widoro bukol (ziziphus rotundifolia), mimba (azadirachta indica), pilang (acacia leucophloea), asam jawa (tamarindus indica), gadung (dioscorea hispida), kemiri (aleurites moluccana), gebang (corypha utan), salam (syzygium polyanthum), kepuh (sterculia foetida), dan beberapa tumbuhan lainnya. Berbagai jenis tumbuhan ini memperindah pemandangan hutan Baluran.
Burung merak di bawah pohon di tengan savana di Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Burung merak di bawah pohon di tengan savana di Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Di taman nasional tertua Indonesia ini  terdapat 26 jenis mamalia, di antaranya banteng (bos javanicus javanicus), kerbau liar (bubalus bubalis), ajak atau anjing hutan (cuon alpinus javanicus), kijang (kuntiacus muntjak muntjak), rusa timor (cervus timorensis), macan tutul (panthera pardus melas), kancil (tragulus javanicus pelandoc), kucing bakau (prionailurus viverrinus)
Selain itu terdapat sekitar 155 jenis burung, di antaranya termasuk burung langka seperti layang-layang api (hirundo rustica), tuwuk asia (eudynamys scolopacea), burung merak (pavo muticus), burung rangkong (buceros rhinoceros), bangau tong-tong (leptoptilos javanicus), ayam hutan merah (gallus gallus), dan banyak jenis burung lainnya.
Satwa endemik yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran yaitu banteng jawa, merupakan salah satu mamalia yang sulit ditemui dan diindikasikan semakin berkurang jumlah populasinya. Dari jumlah ratusan pada 10 tahun terakhir, saat ini jumlahnya diperkirakan sekitar 25-35 ekor banteng jawa yang tersisa.
Diutarakan oleh Joko Waluyo, selaku Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Baluran, berkurangnya populasi banteng jawa maupun macan tutul lebih banyak disebabkan adanya aktivitas perburuan liar.
“Kita sudah upayakan melakukan pengamanan kawasan dengan meningkatkan pengawasan, termasuk melakukan patroli oleh seksi dan resort kami, serta koordinasi dengan kepolisian untuk pengamanan kawasan,” terang Joko.
Hama Akasia
Pengajar di Jurusan Ekowisata, FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Nurdin Razak, merosotnya jumlah populasi banteng jawa di Taman Nasional Baluran disebabkan oleh perburuan pada masa lalu, serta tumbuh kembang tanaman akasia (acacia nilotica) yang ada di sekeliling area Savana Taman Nasional Baluran.
“Kalau perkiraan saya dari pantauan selama ini, jumlah banteng jawa sekarang tinggal 20-an ekor. Ini akibat perburuan serta cepatnya pertumbuhan tanaman akasia yang mengurangi area savana yang menjadi tempat mencari makan banteng jawa,” kata Nurdin Razak.
Pertumbuhan akasia yang sangat cepat itu mengakibatkan berkurangnya area savana dari 40 persen menjadi 10 persen, atau yang semula 10.000 hektar menjadi kurang dari 5.000 hektar. Invasi akasia yang memiliki duri pada batang dan dahannya itu, kata Nurdin Razak, menyebabkan terhambatnya pertumbuhan rumput yang menjadi makanan utama banteng.
“Akasia itu kan tanaman yang tumbuh dengan cepat, banyak duri di dahan dan rantingnya, otomatis banteng jawa kesulitan melewati itu untuk mencari makan. Bisa jadi mereka sekarang pergi mencari lokasi baru, atau karena makanannya terbatas jumlah mereka menjadi berkurang karena mati,” terang Nurdin yang menekuni fotografi satwa dan alam liar sejak 11 tahun yang lalu.
Latar belakang tanaman akasia yang meranggas setelah diolesi cairan solar fermentasi. Foto : Petrus Riski
Latar belakang tanaman akasia yang meranggas setelah diolesi cairan solar fermentasi. Foto : Petrus Riski
Jarak yang rapat antar tanaman akasia ini membentuk sebuah payung, yang mengakibatkan rumput di bawahnya mati akibat kekurangan sinar matahari. Sementara itu upaya pengendalian akasia masih menggunakan cara konvensional yaitu dengan menebang akasia, yang kemudian pokok batangnya dibakar sampai menembus akar. Meski ditebang atau dibakar, tanaman akasia akan terus tumbuh karena akarnya tertanam sangat dalam melebihi panjang tanaman itu sendiri.
“Sudah pernah dilakukan dengan menyuntikkan cairan tertentu pada tanaman akasia, yang bertujuan mencegah pertumbuhannya sehingga tanaman itu menjadi kering dan meranggas, tapi itu baru uji coba dan tidak dilanjutkan kembali,” lanjut Nurdin.
Keberadaan tanaman akasia di sekitar savana Taman Nasional Baluran pada awal mulanya untuk melindungi savanna dari kebakaran yang biasa terjadi pada saat musim kemarau, karena tanaman akasia merupakan tanaman yang tahan terhadap api sehingga diharapkan dapat melindungi savanna dan hutan di sekitarnya.
“Pemerintah menjadikan tanaman asal Afrika itu, sebagai sabuk pelindung savana di Taman Nasional Baluran. Namun cepatnya pertumbuhan akasia yang bibitnya mudah tersebar oleh angin dan burung, menjadikan pertumbuhan akasia tidak terbendung dan semakin meluas,” katanya.
Upaya mengurangi pertumbuhan akasia lanjut Joko Waluyo dari Taman Nasional Baluran, akan terus dilakukan dengan teknik mengolesi akasia Akasia dengan solar hasil fermentasi. Sejauh ini kata Joko, upaya itu cukup berhasil mencegah penyebaran tumbuh kembang akasia.
“Hasilnya cukup berhasil, ada yang tidak tumbuh dan mati. Yang sudah berhasil di savana bekol sekitar 250 hektar, dari total akasia di baluran sekitar 6.000 hektar. Kita lanjutkan, dan anggarannya tidak hanya terbatas dari kami tapi juga dari mitra,” tutur Joko.
Sementara itu, penampakan banteng jawa meski semakin jarang juga dibenarkan oleh Sukadi, salah satu warga Desa Wonorejo, Kecamatan Bayu Putih, Kabupaten Situbondo, yang bertempat tinggal dekat dari kawasan taman nasional.
“Banteng saya pernah ketemu beberapa waktu lalu, juga masih terlihat babi hutan baru-baru ini, dan anjing hutan. Seorang wisatawan asing yang kebetulan menginap di desa ini, pernah melihat macan tutul jawa,” imbuh Sukadi.
Banteng merupakan satwa pemalu yang jarang terlihat berkelompok lebih dari tiga ekor. Pada 1996, populasi banteng tercatat sebanyak 320 ekor, kemudian merosot drastis pada 2007 menjadi 34 ekor, dan terakhir pada 2011 tercatat hanya sekitar 22-24 ekor saja yang tersisa.
Kerbau liar sedang mandi di kubangan. Foto : Petrus Riski
Kerbau liar sedang mandi di kubangan. Foto : Petrus Riski
Pantauan Mongabay pada pertengahan Agustus 2014 atau masuk musim kering, hanya terlihat 2 ekor kerbau liar yang berkubang maupun mencari makan di savana. Selain itu belasan rusa timor dan beberapa ekor merak hijau tampak malu-malu mencari makan dan minum di sekitar savana Baluran. Banteng jawa yang menjadi maskot Baluran, hingga sore menjelang belum menampakkan batang hidungnya maupun suara lenguhannya.
Selain Banteng, keberadaan burung merak juga menjadi perhatian karena jumlahnya yang semakin berkurang akibat perburuan liar. Di Indonesia, jumlah burung merak yang merupakan hewan dilindungi ini diperkirakan tinggal 1.000 ekor, termasuk yang ada di Taman Nasional Baluran.
Krisis Macan Tutul Jawa
Keberadaan macan tutul jawa di Taman Nasional Baluran diprediksi semakin habis, yang diperkirakan jumlahnya mencapai belasan saja. Indikasi langkanya macan tutul jawa di Baluran dapat dilihat dari keberadaan rusa timor yang jumlahnya semakin bertambah dan dominan di savana Baluran. Jumlah yang berlimpah dari satwa yang menjadi mangsa predator macan tutul, memunculkan asumsi bahwa jumlah predator mengalami penurunan atau berkurang.
“Rusa timor, kerbau liar, beberapa unggas seperti ayam hutan dan merak hijau, beberapa burung masih cukup berlimpah di Baluran. Sementara mamalia banteng dan khususnya predator seperti macan tutul, beberapa kali pengamatan dan pendokumentasian yang saya lakukan dan itu kebetulan beberapa kali terlihat, sepertinya jumlahnya semakin berkurang,” ujar Nurdin Razak yang baru 2 kali dalam kurun waktu 11 tahun, berhasil bertemu dan mengabadikan foto macan tutul jawa dengan kameranya.
Rantai makanan yang tidak seimbang ini menjadi indikasi kurangnya pemangsa atau satwa predator baik itu macan tutul maupun ajak atau anjing hutan di Baluran. Nurdin memperkirakan macan tutul jawa tinggal 7 – 12 ekor di taman nasioal yang mempunyai tropical range forest-nya serta zona-zona lain seperti evergreen.
“Faktanya kita malah sering menemukan mangsanya. Padahal pada area jelajah 5 sampai 10 kilometer persegi, seharusnya bisa ditemui satwa predator,” ungkap Nurdin lebih lanjut.
http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2014/08/Peta-Ekologi-Savana-Bekol-di-Baluran.jpg
Peta Ekologi Savana Bekol di Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Pemerintah diutarakan tidak memiliki data dan tidak pernah melakukan pendataan secara akurat mengenai keberadaan satwa yang ada di setiap taman nasional, termasuk di Baluran. Padahal pendataan sangat penting dilakukan untuk mengetahui rekam jejak, masa hidup, dan populasi satwa.
“Perlu salah satunya menggunakan metode jejak untuk home range, pengintaian untuk mangsa, kalau sudah bertemu dibuatkan semacam kalung navigasi. sehingga bisa diketahui dimana jalur mereka, dan seberapa jauh mereka menempuh itu, masa hidup juga bisa diketahui,” paparnya.
Meski penelitian untuk macan tutul jawa telah banyak dilakukan, namun khusus untuk macan tutul jawa di Baluran masih sangat kurang atau bahkan belum dilakukan. Penelitian satwa di beberapa tempat memanfaatkan teknologi berupa kamera pengintai atau kamera trap, untuk memperoleh data dan gambar secara komprehensif.
“Kelemahan pemerintah kita itu data, yang selama ini hanya mengandalkan penemuan-penemuan yang bersifat kualitatif. Yang perlu ditonjolkan sekarang adalah data visual karena mampu berbicara banyak. Kalau idealnya seluruh taman nasional masing-masing punya dokumentasi lengkap mengenai flora dan faunanya. Itu tidak mudah dan tidak cepat, tapi harus dimulai sekarang, karena hanya itu yang tertinggal,” imbuh Nurdin yang mendirikan Baloeran Ecologe sebagai media informasi mengenai Baluran.
Gunung Baluran
Baluran merupakan taman nasional yang terletak Kecamatan Banyu Putih, Kabupaten Situbondo, dan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Wilayah utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah timur Selat Bali. Adapun sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati, dan sebelah barat Baluran berbatasan dengan Sungai Kelokoran, sementara di tengah kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi.
Baluran memiliki temperatur udara 27-34 derajat celcius, curah hujan 900-1.600 mm/tahun, ketinggian tempat 0-1.247 mdpl, serta letak geografis 7°29’-7°55’ LS, 114°17’-114°28’ BT.
Burung Merak mencari makan di savana Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Burung Merak mencari makan di savana Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Nama Baluran diambil dari gunung yang berada di kawasan itu yakni gunung Baluran. Sebelum tahun 1928, AH. Loedeboer, seorang pemburu kebangsaan Belanda yang memiliki daerah konsesi perkebunan di Labuhan Merak dan Gunung Mesigit, pernah singgah di Baluran. Loedeboer menaruh perhatian terhadap Baluran dan meyakini bahwa tempat itu mempunyai nilai penting untuk perlindungan satwa khususnya jenis mamalia besar.
Pada tahun 1930, KW. Dammerman yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor mengusulkan perlunya Baluran ditunjuk sebagai hutan lindung. Dan kemudian Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan Baluran sebagai Suaka Margasatwa pada tahun 1937 dengan ketetapan GB. No. 9 tanggal 25 September 1937 Stbl. 1937 No. 544.
Pasca kemerdekaan, Baluran ditetapkan kembali sebagai Suaka Margasatwa oleh Menteri Pertanian dan Agraria Republik Indonesia, dengan Surat Keputusan Nomor. SK/II/1962 tanggal 11 Mei 1962. Selanjutnya bertepatan dengan Hari Strategi Pelestarian se-Dunia pada tanggal 6 Maret 1980, Suaka Margasatwa Baluran diumumkan sebagai Taman Nasional oleh Menteri Pertanian. Melalui SK. Menteri Kehutanan No. 279/Kpts.-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997, kawasan Taman Nasional Baluran ditetapkan memiliki luas 25.000 hektar.
Taman Nasional Baluran memiliki ekosistem yang bervariasi, mulai dari hutan rawa, hutan pegunungan bawah, hutan yang selalu hijau sepanjang tahun atau evergreen, hutan pantai, hutan musim, hutan mangrove, dan vegetasi savana.
Taman Nasional Baluran memiliki beberapa bagian sesuai peruntukannya, diantaranya zona inti seluas 12.000 hektar, zona rimba seluas 5.537 hektar dan terbagi dalam wilayah perairan 1.063 hektar dan wilayah daratan 4.574 hektar, zona pemanfaatan intensif seluas 800 hektar, zona pemanfaatan khusus 5.780 hektar, dan zona rehabilitasi seluas 783 hektar.
Dibagian tengah Taman Nasional Baluran terdapat Savana Bekol, berupa padang rumput yang sangat luas berwarna kuning kecoklatan. Savana terbesar di Pulau Jawa ini, banyak dijuluki savanna Afrika di Indonesia. Tidak jauh dari padang savana terdapat menara pandang setinggi 64 meter. Di sisi luar terdapat pantai Bama, Balanan dan Bilik, yang terletak di sekitar taman nasional, dapat menjadi salah satu alternatif wisata memancing maupun snorkling.
Kawasan Savana Bekol di Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Kawasan Savana Bekol di Taman Nasional Baluran. Foto : Petrus Riski
Di pantai Bama merupakan tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit, selain kumpulan pohon bakau atau mangrove serta kawasan konservasi lainnya yang masih alami. Selain monyet ekor panjang yang bebas naik turun pohon disekitar pantai, bisa didapati pula satwa lainnya seperti biawak dan babi hutan, serta sesekali dapat ditemui burung raja udang (halcyon chloris) di dahan sekitar pantai dan aneka jenis burung migran.

Source : link
0 komentar

Ekspedisi Herpetologi Mania, ‘Berburu’ Amfibi di Hutan Simbahe

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna
Microhyla,  kodok yang ditemukan disekitar hutan dan pemukiman warga yang tinggal di sekitar hutan dan pemukiman warga. Foto: Ayat S Karokaro
Microhyla, kodok yang ditemukan di sekitar hutan dan pemukiman warga yang tinggal di hutan dan pemukiman warga. Foto: Ayat S Karokaro
Komunitas pencinta satwa bernama Herpetologi Mania, Sabtu (23/8/14) memulai ekspedisi di hutan Simbahe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kelompok ini terdiri dari mahasiswa Biologi Universitas Sumatera Utara (USU) dan mahasisiwa pasca sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka akan meneliti spesies amfibi di hutan itu. Saya ikut tim mendokumentasikan berbagai temuan.
Tim ekspedisi meminta izin tokoh adat suku Karo, di pintu rimba sekitar lokasi penelitian. Di sepanjang perjalanan, berbagai jenis spesies ditemukan, bahkan seekor anak ular diperkirakan baru menetas terlihat melintas.
Tim 10 orang ini dibagi menjadi dua. Lima orang mencari target di perkebunan sekitar hutan, dan daratan. Tim kedua menelusuri jalur air dan sekitar.
Dalam ekspedisi kali ini, mereka fokus mencari berbagai spesies amfibi, termasuk Ichthyophis, yang jarang ditemui. Bentuk tubuh mirip cacing besar atau ular. Hidup di dalam tanah gembur dekat sungai dan rawa-rawa. Belum banyak penelitian dilakukan hingga satwa ini belum dikenal umum.
Salah satu tim, Farid Akhsani. Mahasiswa pasca sarjana ini peneliti jurusan bio sains hewan di IPB. Menurut dia, Ichthyophis salah satu amfibi primitif. Secara morfologi seperti cacing tetapi kekerabatan lebih dekat dengan amfibi. Di Indonesia, penelitian soal spesies ini masih sedikit sekali.
Anggota Komunitas Herpetologi Mania tengah melakukan penelitian mencari berbagai spesies amfibi di hutan Simbahe. Foto: Ayat S Karokaro
Anggota Komunitas Herpetologi Mania tengah melakukan penelitian mencari berbagai spesies amfibi di hutan Simbahe. Foto: Ayat S Karokaro
Secara ekologis, Ichthyophis itu mendekati jenis katak dan kodok. Untuk fungsi ekologis, Ichthyophis sebagai detrifor untuk mencerna zat-zat pembusukan, atau sebagai fungsi penyeimbang penguraian zat-zat pembusukan tanah. Di Indonesia, ada 12 jenis Ichthyophis ditemukan.
Dia mengatakan, habitat satwa ini di hutan tropis, di kayu busuk dan tumbuhan mati. Ia mengkonsumsi makanan hewan kecil makro fauna dan misofauna atau hewan-hewan jenis itu di dalam tanah. Terhadap alam, satwa jenis detrifora ini akan menghancurkan zat sisa pada alam seperti keong dan siput.
“Dalam penelitian ini, kami mengeruk sampah dan mencari di kayu busuk dan mati. Kalau anakan masih kecil hidup di air. Jika sudah dewasa ke darat dan lokasi lembab. Kadang kembali ke air karena hidup di dua alam,” kata Farid.
Hari itu, meskipun tidak menemukan Ichthyophis, mereka mendapatkan Leptobrachium hendricksoni, juga jarang ditemui. Mereka juga menemukan beberapa jenis lain seperti kodok puru (Bufo melanotictus). “Kami akan terus mencari agar penelitian ini bisa lebih lengkap.”
Kodok Puru, salah satu  yang ditemukan oleh Komunitas Herpetologi Mania di Hutan Simbahe. Foto: Ayat S Karokaro
Kodok Puru, salah satu yang ditemukan oleh Komunitas Herpetologi Mania di hutan Simbahe. Foto: Ayat S Karokaro

Source : link
0 komentar
Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna
Kupu-kupu Troides Helena jantan. Foto : Agustinus Wijayanto

Kupu-kupu Troides Helena jantan. Foto : Agustinus Wijayanto
Kupu-kupu, bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu diperhitungkan. Namun satwa ini memiliki peran penting dalam ekosistem yaitu sebagai pollinator atau penyerbuk sehingga alam ini lebih seimbang.  Kupu-kupu memiliki sensitifitas tinggi karena tergantung pada habitat penyerbukan tanaman, termasuk juga pada kawasan karst di Gunungkidul, Yogyakarta. Salah satu jenis kupu-kupu yang menarik adalah kupu-kupu raja Troides helena.  Satwa ini dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, tercantum dalam Lampiran II CITES, dan status dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List (pada 2008 belum dimasukkan/data deficient). Kabupaten Gunungkidul terkenal dengan kawasan karst dan salah satu kawasan karst tropis yang memiliki  nilai-nilai geologi dan keanekaragaman hayati unik. Beberapa lokasi kecamatan di Gunungkidul memiliki kawasan karst yang berpotensi sebagai hidrologi dan fungsi ekologis dan sudah terdaftar dalam perencanaan tata ruang (Perda No.6 / 2011 Kabupaten Gunungkidul tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gunungkidul). Disebutkan bahwa pembentukan untuk melindungi fungsi kelestarian lingkungan yang mampu beradaptasi terhadap dampak risiko bencana termasuk mempertahankan dan melestarikan ekosistem unik dan endokarst / formasi eksokarst dan sinkronisasi dilindungi geologi pengelolaan kawasan sebagai perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan pariwisata warisan dunia Untuk mengetahui keberadaan kupu-kupu raja tersebut, peneliti muda dari -Kanopi Indonesia Jogja dan Pemuda Pecinta Alam Gunungkidul melakukan survey beberapa bulan ini di berbagai tempat di kecamatan Gunungkidul, antara lain di Tepus, Patuk, Wonosari, Ponjong, Paliyan, Karangmojo, Semin, Nglipar, Panggang, Tanjungsari, Semanu, Girisubo, Playen, Purwosari.
Menurut tim peneliti dari Yayasan Kanopi Indonesia, Arif Nurmawan, penelitian ini penting kerena sudah jarang ditemukan kupu-kupu raja Troides helena di Gunungkidul sebagai satwa eksotik.  “Kupu-kupu raja Troides helena, merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia dan keberadaannya di Gunungkidul sangat terbatas. Kawasan Gunung api purba di Nglanggeran-Patuk, Gunungkidul merupakan salah satu habitatnya yang cukup aman,” katanya. Survey ini mendapat dukungan dari MBZ Species Conservation-Dubai. Sebuah lembaga konservasi yang peduli terhadap pelestarian satwa liar di dunia. Fakta lapangan menunjukkan bahwa dari sekian banyak lokasi yang diteliti, hanya  hanya di Patuk, yaitu di Nglanggeran dengan jumlah rata-rata 25 individu sedang di lokasi lain hanya ditemukan 1 individu. Sirih hutan (Aristolochia sp.)  sebagai pakan inang dari Troides helena hanya ditemukan di bukit Nglanggeran dengan populasi rata-rata 22 individu dengan dominasi anakan (seedling). Di beberapa lokasi kecamatan yang telah disurvey tersebut menunjukkan ancaman yang tidak ringan yaitu penambangan kapur dimana kawasan tersebut merupakan habitat dari Troides helena dan Aristolochia sp. “Habitat kupu-kupu raja mendapat ancaman antara lain penambangan batu kapur, kompetitor alami, serta datang dari para peneliti yang cenderung menangkap banyak kupu-kupu untuk dikumpulkan menjadi spesimen” ungkap Arif. Lebih lanjut bahwa hasil penelitian ini penting untuk memberikan masukan kepada pengelolaan kawasan di wilayah habitat kupu-kupu raja Troides helena. “Kami meneliti kupu-kupu raja ini dengan menangkap menggunakan swipnet kemudian kami identifikasi jantan atau betina dan kami lepaskan kembali ke alam, agar keseimbangan dan dinamika populasinya tetap terjaga”ungkap Arif. Kondisi populasi kelangsungan hidup Troides helena dan Aristolochia sp, menjadi tanggung jawab semua pihak. Secara khusus, Nglanggeran-Patuk, yang merupakan salah satu lokasi wisata alam perlu diperhatikan lebih serius karena dengan adanya wisata masal akan berpengaruh negatif terhadap keberadaan Troides helena dan Aristolichia sp tersebut.
Tanaman Sirih Hutan Aristolochia sp merupakan pakan inang kupu-kupu raja. Foto : Agustinus Wijayanto
Tanaman Sirih Hutan Aristolochia sp merupakan pakan inang kupu-kupu raja. Foto : Agustinus Wijayanto
Pengelola Ekowisata di Nglanggeran mengapresiasai langkah yang dilakukan untuk mengetahui Troides helena dan pakannya tersebut. “Kami sangat berterima kasih karena ada penelitian terkait kupu-kupu raja Troides helena yang selama ini tidak kami ketahui bahwa jenis tersebut dilindungi di Indonesia”, ungkap Heru selaku anggota Pengelola Ekowisata Nglanggeran. Upaya-upaya yang dilakukan terhadap kelestarian ini tidak hanya berupa penelitian atau survey, namun perlu langkah nyata.  Salah satunya melalui pengembangbiakan secara alami Aristolochia sp dan perlindungan Troides helena. Kegiatan tersebut selain untuk memperbaiki lingkungan dan melindungi Troides helena, juga dapat digunakan sebagai wahana pendidikan lingkungan” ungkap Arif. Hal tersebut diamini juga oleh Heru selaku pelaku Ekowisata Nglanggeran, karena memiliki nilai tambah ekowisatanya yaitu pengenalan kupu-kupu raja Troides helena dan Aristolochia sp. Untuk itu, upaya nyata bagi penyelamatan kupu-kupu raja selain perlindungan habitat dan pengembangbiakan secara alami adalah mendorong Pemerintah Daerah Gunungkidul agar lebih memperhatikan kawasan-kawasan karst, terutama habitat Troides Helena dan Aristolochia sp di kawasan Gunungapi purba Nglanggeran sebagai lokasi ekowisata sekaligus lokasi penyelamatan habitat Troides helena dan Aristolochia sp. Penyadartahuan kepada masyarakat luas terhadap keberadaan kupu-kupu dan pakan alam tersebut agar mendorong kepedulian masyarakat untuk ikut melindungi sebagai upaya penyelamatan bersama agar tidak punah di kemudian hari.

Source : link
0 komentar

Pictured Dragonet, Ikan Eksotis Yang Makin Langka

Diposting oleh Maysatria Label: Flora dan Fauna, Konservasi
IKan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda

IKan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda
Indonesia kaya dengan keanekaragaman hayati bawah laut, salah satunya adalah ikan Pictured Dragonet (Synchiropus picturatus). Serupa tapi tak sama, demikian jika kita menyandingkan antara Mandarinfish (Synchiropus splendidus) dengan Pictured Dragonet Perbedaan kedua ikan eksotis ini cuma motif di badannya. Jika Mandarinfish mempunyai motif garis-garis, sedangkan Pictured Dragonet atau biasa juga disebut dengan Western Dragonet mempunyai motif bulat-bulat.
IKan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda

IKan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda
Keberadaan Pictured Dragonet termasuk langka, jika dibandingkan dengan saudara kembarnya Mandarinfish. Mempunyai habitat yang juga serupa dengan Mandarinfish, Pictured Dragonet hidup dan bersembunyi diantara karang-karang mati.
Karang-karang mati ini, mereka manfaatkan sebagai tempat berlindung dari para predatornya. Dengan warna dan coraknya yang menarik, Pictured Dragonet seringkali menarik perhatian para pehobi fotografi bawah laut.
IKan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda

IKan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda
 Pictured dragonet sering dijumpai pada pagi hari ketika matahari terbit dan sore hari ketika matahari terbenam, atau bisa juga tergantung pada suhu air. semakin rendah suhu air, maka Pictured Dragonet akan lebih mudah dijumpai. Ikan ini juga sering pula dijumpai berpasangan.
Ikan eksotik ini tidak diketahui musim memijah yang pasti, karena ketika suhu air rendah maka pictured dragonet kerap dijumpai sedang bereproduksi. Pictured Dragonet jantan bisa melakukan perkawinan pada beberapa betina sekaligus dalam satu masa. proses perkawinannya pun tergolong sangat unik, betina dan jantan akan berenang berdampingan sambil masing-masing mengeluarkan sperma dan telurnya.
Makanan Pictured Dragonet adalah algae atau tumbuhan yang menempel pada karang.
IKan Pictured Dragonet yang sedang kawin di kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda

IKan Pictured Dragonet yang sedang kawin di kawasan perairan Bali. Foto : Wisuda
Walaupun senang menampakan diri pada suhu air rendah, tetapi Pictured Dragonet tersebar di wilayah perairan tropis, seperti Asia, termasuk Indonesia sampai ke sebagian laut Australia.
Sebetulnya di beberapa wilayah perairan laut indonesia, ikan ini dapat dijumpai dengan mudah, tetapi karena ketidaktahuan dari pemerintah setempat dan ekaplorasi nya sebagai komoditas ikan hias, menjadikannya semakin menghilang dan tidak dikenal.
Padahal, jika dipertahankan dan dijaga betul keberadaannya, ikan ini bisa mendatangkan devisa dan keuntungan yang tidak sedikit, karena para fotografer underwater , baik dalam negeri maupun mancanegara, banyak yang mengincar ikan ini sebagai obyek fotonya.

Source : link
0 komentar

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Kategori

  • Flora dan Fauna (128)
  • Forestry (312)
  • Mangrove (82)

Archive

  • ▼  2015 (20)
    • ▼  Oktober (3)
      • Info Sebaran Hotspot provinsi Jambi 27 September -...
      • Tak Wajibkan SVLK, Kebijakan Ekspor Ini Bikin Lang...
      • Berikut Korporasi-korporasi di Balik Kebakaran Hut...
    • ►  September (17)
  • ►  2014 (43)
    • ►  Agustus (13)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (8)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2013 (309)
    • ►  Desember (14)
    • ►  November (97)
    • ►  Oktober (28)
    • ►  September (36)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  Juli (20)
    • ►  Juni (19)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (20)
    • ►  Februari (19)
    • ►  Januari (25)
  • ►  2012 (97)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (25)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (15)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (19)
    • ►  Januari (16)
  • ►  2011 (323)
    • ►  Desember (52)
    • ►  November (27)
    • ►  Oktober (12)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (16)
    • ►  Maret (24)
    • ►  Februari (122)
    • ►  Januari (44)
  • ►  2010 (105)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (22)
    • ►  Agustus (79)

_______________

_______________

 

© My Private Blog
designed by Website Templates | Bloggerized by Yamato Maysatria |